Tulisan asli dari ini :
Saya sebenarnya tak pernah suka lari. Tapi, banyak hal yang membuat saya terus berlari.
Saya menduga, pasti ada yang akan menyeletuk dan berkata, ‘Lari dari kenyataan?’ Atau kalau kata karib saya Wandi, ‘Lari dari kenyataan percintaanmu yang absurd?’
Sayangnya, bukan itu.
Saya kompetitif. Tidak hanya terhadap orang lain, bahkan terhadap diri saya sendiri.
Biasanya orang yang kompetitif itu ambisius. Sayangnya, saya justru berkebalikan. Saya tidak ambisius. Ini yang kata guru olahraga saya membuat saya tak menekuni lari dengan serius dan menganggap sekadar kewajiban yang harus dipenuhi ketika sekolah mengutus. Lagi-lagi katanya, saya kontradiktif.
Saya tak pernah memenangkan lomba lari apa pun di setiap pertandingan lari antarsekolah, mulai dari tingkat kabupaten, kotamadya, sampai provinsi. Saya sudah bilang, kan, saya kompetitif tetapi tidak ambisius. Dan saya tak suka jadi pelari. Itu satu-satunya cara yang saya tahu agar di pertandingan-pertandingan mendatang, saya tak lagi diikutkan.
Saya keliru. Setiap ada pertandingan lari, nama saya selalu ada mewakili sekolah.
Meditasi saya adalah bergerak. Dan salah satu meditasi mendasar yang penting adalah meditasi kesadaran. Berlari membuat saya mendapatkan keduanya.
Berlari mengajarkan saya tak hanya fokus kepada titik selesai, tetapi mengamati apa yang ada di sepanjang lintasan.
Berlari bukan sekadar olahraga agar saya tetap sehat. Berlari yang sebenarnya tidak saya sukai ini menjadikan jalur yang saya lalui sebagai lintasan pikiran saya.
Setiap berlari, selain menjaga fokus dan kesadaran akan sekeliling, pikiran saya melakukan percakapan-percakapan. Ide-ide baru bisa muncul. Kadang, saya sengaja menjadikan jadwal lari sebagai waktu untuk memikirkan sesuatu. Bercakap-cakap dengan diri sendiri. Keputusan bisa saya ambil di tengah berlari.
Saya sebenarnya tak suka berlari. Namun, ada banyak hal yang membuat saya berlari.
Salah satunya, agar saya tak berhenti mengejar diri saya sendiri.
Saya kompetitif, tetapi tidak ambisius. Saya hanya tak mau tertinggal, apa lagi dengan diri sendiri.
Berlari membuat saya tak pernah meninggalkan diri saya. Mungkin waktu tempuh saya tak secepat yang lain, jarak tempuh saya tak sejauh yang lain, namun saya memastikan saya tiba di titik henti dengan kesediaan mengalami apa pun yang ada di lintasan.
- Terima kasih ya Kak @windyariestanty, tulisannya bagus sekali.
—————————
Saya rasa memang paling menyenangkan ketika mampu mengalahkan diri sendiri.
Ada pepatah lama orang Melayu, “Beginilah Melayu, jangankan kalah, seri pun tak mau.”
Jumat kemarin setelah sekian lama, saya memberanikan diri untuk (belajar) berenang lagi, makan di keramaian sendiri lagi, melewati jalan gelap sendirian lagi. Benar-benar hari bersendiri! Menyenangkan! Karena pada dasarnya musuh terbesar memang tetaplah selalu diri sendiri. Mengakrabi sepi, agar lebih mengenali diri.
Berbicara tentang kompetisi, sebenarnya saya kadang merindukan ayuprissa yang dulu, yang ambisius dan menggebu-gebu, pernah menetapkan seseorang sebagai target yang ingin saya susul, kemudian mencari tahu cara kerjanya dan mencoba melakukan segala sesuatu lebih daripada yang telah dilakukannya. Menuliskan mimpi yang akan saya capai esok hari. Kemudian setelah saya kuliah, ternyata tabiat saya yang satu ini hilang, saya justru menjadi orang yang tidak ambisius lagi. Alhamdulillaah Allah masih sayang, masih banyak hadiah kebaikan tetap diberikan kepada saya.
Yuk ah kita berlari lagi, mengalahkan diri sendiri! Memenangkan diri sendiri!

Jogja. 18:17 hujan belajar turun di luar sana. 16062013.









